AKTUALISASI INTERFERENSI BAHASA DAERAH DALAM BERTUTUR KATA PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH

Dwi Susilowati

Abstract


Bahasa Indonesia diadopsi dari Bahasa Melayu. Bahasa Indonesia dianggap lahir pada awal abad ke-20 bersamaan dengan lahirnya hari Kebangkitan Nasional. Latar belakang pemunculan interferensi bahasa dapat ditelusuri dari penutur dan bahasa yang dituturkannya. Weinreich (1970:64-65) mendeskripsikan beberapa faktor yang dapat dipandang sebagai latar belakang munculnya gejala interferensi, yaitu: (1) Kedwibahasaan para peserta tutur. (2) Kurangnya loyalitas pemakaian bahasa penerima. (3) Tidak cukupnya kosakata penerima dalam menghadapi kemajuan dan pembaruan.(4) Menghilangnya kata-kata yang jarang digunakan. (5) Kebutuhan akan sinonim.(6) Prestise bahasa sumber dan gaya bahasa. Interferensi merupakan salah satu faktor penyebab kesalahan berbahasa karena merusak sistem suatu bahasa. Interferensi merupakan kekeliruan yang disebabkan oleh adanya kecenderungan membiasakan pengucapan (ujaran) suatu bahasa terhadap bahasa lain. Cakupan pengucapannya adalah satuan bunyi, tata bahasa, dan kosakata. Secara umum, interferensi merupakan gejala bahasa yang timbul di dalam masyarakat bilingual dan atau multilingual. Kontak bahasa  mengakibatkan terjadinya penyimpangan kaidah- kaidah bahasa, penyerapan dan penggunaan kosakata bahasa asing. Penyimpangan kaidah-kaidah bahasa dan penyerapan bahasa asing dikatakan sebagai interferensi. Penyimpangan kaidah bahasa berupa perubahan bunyi (fonologi), susunan kata berupa pola frase (morfologi) dan struktur kalimat (sintaksis). Penyerapan bahasa asing dapat berupa pengambilan kosakata asing dan penyesuaian ejaan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa asing berupa leksikal yang belum atau tidak diindonesiakan. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa interferensi terjadi yang terjadi disebabkan oleh kekurangpengetahuan terhadap bahasa target. Sealin itu disebabkan oleh kedudukan lawan bicara dan faktor- faktor yang menyangkut pribadi seorang penutur yang tidak menguasai bahasa dalam masyarakat tutur. Walaupun peristiwa interferensi merupakan hal yang lazim dan wajar terjadi, akan tetapi cenderung bersifat merugikan dan merusak hubungan makna dalam berkomunikasi. Oleh karena itu, dalam berkomunikasi agar selalu menerapkan kaidah berbahasa agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Kata Kunci : Aktualisasi, Interferensi, Bahasa Daerah, Bahasa Indonesia


Full Text:

PDF

References


Alwasilah, A. Chaedar. 1985. Beberapa Madhab dan Dikotomi Teori. Bandung: Angkasa.

Chaer, Abdul dan Agustina, Leonie. 2010. Sosiolinguistik. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Jendra, I. Wayan. 1991. Dasar- dasar Sosiolinguistik. Denpasar: Ikayana.

Kreidler, Charles W. 1998. Introduction English Semantic. London: Routledge.

Suwito, M. 2001. Sosiolinguistik. Surakarta: UNS Press

Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Kedwibahasaan. Bandung: Angkasa.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


INDEXED BY :